1001 CARA MEMBUAT PASPOR REPUBLIK INDONESIA

01.22

Paspor Republik Indonesia.
Bicara soal pembuatan paspor sebenarnya bukan hal yang rumit. Tapi anehnya, saya terjerat cinta buta masalah bertubi-tubi yang tak kunjung berakhir.

Saya memilih Malang sebagai tempat pembuatan paspor karena saya kuliah disana. Di hari pemohonan, saya dengan PD-nya membawa semua berkas yang telah saya siapkan (berdasarkan riset di internet) ke kantor Imigrasi Malang. Menurut informasi, saya harus antri dari subuh, karena pemohon paspor disana sangat banyak. Sayangnya, saya telat banget! Pukul 6 pagi saya masuk ke parkiran kantor Imigrasi dan hanya melihat sekitar 5 orang disana. Loh? Saya bertanya-tanya dalam hati dong, katanya antrian mulai subuh, kok ini jam 6 masih belum ada orang yang antre gini?

Saya coba ngobrol dengan salah seorang Bapak, beliau berusaha menjelaskan kalau sekarang antrian hanya dapat dilakukan via online dan disarankan untuk download aplikasi “Antrian Paspor”. Saya langsung download aplikasi tersebut dan mencoba apply di Kantor Imigrasi Malang.

JRENGGGG!!!!!!  “maaf, kuota telah penuh, silakan mendaftar di kantor Imigrasi lain”. LOH HE, OPO-OPOAN IKI?! Saya coba apply di kantor Imigrasi Juanda yang dekat dengan rumah saya, tapi hasilnya tetap sama, penuh! Saya coba apply di kantor Imigrasi lain yang masih berada di lingkungan Surabaya, tapi jadwal antrian baru bisa dapatkan di bulan Desember, sedangkan saya sangat butuh paspor itu terbit bulan ini.

Saya mulai deg-degan. Menurut informasi yang saya dapatkan dari Bapak Satpam, Kediri dan Blitar masih menggunakan sistem antrian walk-in.

Saya coba hubungi teman yang berasal dari Kediri buat cari informasi pembuatan paspor di kantor Imigrasinya. Niatnya sih saya pengen buat paspor dengan tangan saya sendiri, tapi kok ternyata teman saya salah paham dan akhirnya dikenalkan “orang dalam” yang bernama Pak Yusuf dari Ayahnya.

Saya menghubungi beliau dan menjelaskan maksud saya. Singkat cerita, Pak Yusuf ngajak ketemu di kantor Travel Umroh-nya yang ada di Blitar. Hari Sabtu, saya minta tolong @zhnvynty buat menemani saya ketemu Pak Yusuf. Berbekal google maps, kami berangkat dengan penuh harapan. Sayangnya, harapan saya pupus saat Pak Yusuf malah bikin ribet! Saya malah disuruh urus banyak surat. Mulai Surat rekomendasi dari kampus, surat rekomendasi dari diknas sampai surat dari departemen agama. Lah! Idealnya, kalau saya pilih shortcut, harusnya saya dipermudah dong. Eh ini malah dipersulit. Ya mana keuntungannya buat saya? Ah! Dari hasil yang nihil itu, kami memutuskan untuk main-main dulu ke Kampung Coklat Blitar.

Sepulang dari Blitar,  saya coba memutar otak dengan berniat mengurus secara mandiri di Kediri dengan menggunakan surat domisili sementara.

In this part, I really want to say thanks very much to my dear @lailifaizza a.k.a teman KKN yang biasa saya panggil Bu Dokter sekeluarga yang benar-benar berusaha membantu lancarnya pembuatan paspor ini.

Ceritanya, Ayahnya Laili yang bantu buatkan surat domisili sementara dengan mengalamatkan saya di rumahnya. Setelah suratnya jadi, Saya dan @yanasvtr, berangkat di sore syahdu yang lumayan gerimis ke Kediri. Niatnya Cuma cari rumah Laili buat ambil surat domisili aja terus pergi ke Alun-alun dan “nggembel” disana. Untungnya, niat absurd kami digagalkan Ibunya Laili yang langsung ngajakin nginep rumah sambil maksa-maksa. Wah! Jadi enak! Kebaikannya belum berakhir loh, karna nggak tega lihat kami kelaparan, Ibunya Laili beli Nasi Goreng yang enak dan banyak banget porsinya. Gorengan yang disuguhin juga enak banget! My stomach was the happiest in that day!

Back to topic! Besoknya, saya dan Yana bangun pukul 3.30 pagi. Kami mandi, dandan dan siap-siap berangkat ke kantor Imigrasi. Pas pamit ke Ibunya Laili, kami malah nggak boleh berangkat karena masih kepagian. Saya coba jelasin kalau di Malang antriannya sudah mulai dari subuh, kalau kesiangan takutnya nggak dapat kuota. Penjelasan saya ditolak, kami malah disuruh nunggu sampai jam 6 dan wajib sarapan! OMG, bukannya nggak suka diajakin sarapan, tapi kan saya takut telat.

Sampai disana, antrian sudah lumayan panjang. Berkas saya diperiksa Pak Satpam sebagai pemeriksaan awal sebelum dibawa ke petugas. Setelah itu, saya duduk di kursi antrian. Setelah lumayan ada di garis depan, ada seorang Ibu bisik-bisik ke saya sambil melas, “Mbak, suami saya mau kerja habis ini, rumah saya Jombang, boleh nggak saya duluan?”. Dengan tulusnya saya bilang “monggo Bu, ndak apa-apa.” Sambil senyum lebar saya menukar antrian saya dari nomor 29 ke 39.

Setelah cukup dekat dengan meja petugas seleksi, kira-kira 10 orang di depan saya, badai pun datang. Salah seorang petugas berdiri dan berteriak “Yang KTP-nya diluar Kediri tolong pulang dan besok kembali lagi ya, kuotanya habis, sehari cuma 10 orang”.

Serius begitu? Saya masih sibuk bertanya-tanya dalam hati, ini saya beneran harus balik lagi nih buat antri? Rasanya udah pengen nyerah dan milih nggak bikin paspor saja! Saya dan Yana akhirnya pulang dengan muka ditekuk. Saya sih yang sedih berkelanjutan, Yana ya biasa saja!

Sebenarnya saya pengen tinggal sehari lagi di Kediri dan kembali besok paginya ke kantor Imigrasi, sayangnya saya harus presentasi UTS besok. Jadilah saya berusaha menuntaskan kewajiban satu per satu dan mengumpulkan nyali di rabu malam untuk berangkat ke Kediri sendirian.

Bukaaaaaan! Bukan karena saya anti sosial, tapi hari itu saya benar-benar kehabisan teman, semuanya sibuk di hari Kamis. Jadilah saya nekat untuk berangkat sendiri. Hari itu, saya cuma berfikir bahwa, I was born to be brave! Saya harus berjuang nih buat apa yang memang harus saya perjuangkan. Saya berusaha yakin kalau saya nggak akan pernah sendirian.

The journey began.

Saya berangkat pukul 8 malam. Melewati jalanan Kediri-Malang yang ngerinya melebihi film "Pengabdi Setan". Saya hafal banget jalanan itu berliku-liku, sepi, seram, banyak pepohonan di kiri dan kanannya tanpa lampu jalan. Saya lumayan bingung sih, mau ngebut nggak kelihatan tikungan, mau pelan-pelan aja juga ngeri. Kalau ada begal atau pocong gimana?

Rasanya ketemu motor yang papasan itu sudah jadi nikmat tersendiri! Kayaknya baru kali ini, di sepanjang jalan saya nangis dan istighfar terus. Kayanya ini juga saat-saat tersolehah dalam hidup saya. Alhamdulillah ya!

Sampai di kediri pukul 10 malam, saya berhenti di salah satu Alfamart. Niatnya, saya mau nunggu subuh disana aja. Tapi, sekitar pukul 12 malam saya jadi sungkan karena mas-mas Alfamart mulai keluar masuk ngelihatin saya terus. Akhirnya saya putuskan untuk pergi dan mencari masjid dengan pesimis. Masalahnya, saya pernah baca artikel tentang keluhan seseorang gara-gara masjid nggak dibuka 24 jam. Saya pun menemui hal yang sama, nggak ada satupun masjid yang masih buka pukul 12.30 malam. Saya mulai gelisah, mata perih dan masih bingung mau tidur dimana. Saya coba cari pom bensin di maps, sialnya jarang ada pom bensin yang buka 24 jam kediri. Sekalinya saya nemu dan minta ijin, si mbak menolak dengan halus “Maaf ya mbak, musholahnya dipakai tidur sama karyawan.”

Saya muter-muter dijalan sambil mikir kemana lagi harus pergi. Saya kembali ke Simpang Lima Gumul, berniat tidur disana dan berhenti di salah satu sisinya. Saya mengeluarkan kain songket yang biasa saya pakai untuk selimut dan mencoba merem di dekat sepeda motor yang saya parkir.

Nggak lama setelah itu, geng-nya "Boy dan Reva" datang a.k.a mas-mas bermotor brong yang parkir di dekat saya dan asyik foto-foto dengan background Simpang Lima. OMG! It’s almost 2 am and all of you guys still go around and take picture in your own hometown! Kenapa nggak besok aja sih? Duh pengen nangis!

Saya pergi lagi dari Simpang Lima karena nggak enak menghalangi mas-mas berfoto ria. Selama di jalan, saya terus lihat kiri dan kanan. Mencari-cari peluang tempat tidur di sisa waktu 2 jam ini. Eh, mata saya tiba-tiba tertuju di deretan bilik-bilik ATM yang ada di kanan jalan dari arah Simpang Lima. Saya coba cek suasananya dan sepertinya cocok! Alhamdulillah. Di ujung bilik ATM, ada sebuah meja dan kursi lengkap dengan satu stopkontak yang cukup untuk mengisi batrai HP saya.

Seperti inilah ATM yang saya tinggali malam itu di Google Maps.

Saya coba luruskan kaki dan tidur bersandar pada kursi. Masya Allah, saya berkata dalam hati "nikmat mana yang kau dustakan?" Malam itu saya belajar tentang bersyukur. Sekalipun tidur di pinggir jalan dan beberapa kali terbangun karena nggak tenang, tetaplah malam itu punya makna dan jadi nikmat tersendiri buat saya!
Perjalanan kali ini benar-benar buat saya belajar, hal sekecil apapun sangat patut disyukuri. Apapun!

Subuhnya, saya bangun dan berangkat ke Masjid Alun-alun Kediri. Saya sholat subuh, mandi, dandan dan ganti baju lalu pergi Kantor Imigrasi.Pukul 5.30 pagi saya sampai di depan gerbang kantor Imigrasi yang pagarnya masih terkunci dengan belasan orang yang sudah berdiri didepannya. Saya kenalan dengan mereka yang ternyata kebanyakan adalah orang-orang yang sudah sempat kehabisan kuota di hari-hari sebelumnya.

Pukul 7.30 kami mulai duduk berurutan di kursi antrian, berkas saya diterima dan diberi nomor antrian untuk foto dan wawancara. Pertanyaannya simple saja seperti, mau pergi kemana, dengan siapa, kapan perginya dan segala hal yang menyangkut keberangkatan. Berusahalah untuk selalu tenang dan berkata jujur dalam menjawab.

Suasana kantor Imigrasi Kediri.

Setelah beberapa pertanyaan berhasil saya jawab dan tidak ada tanda-tanda penolakan, saya langsung sumringah! Sayangnya, drama belum berakhir. Di akhir wawancara, petugas bilang kalau Billing code yang digunakan untuk bayar biaya pembuatan paspor di bank macet dan nggak bisa keluar.

“Mbak, nanti saya sms ya kode bill-nya, ini mesinnya macet.”

Sehari kemudian saya di sms dan langsung saya bayarkan di bank. Biaya pembuatan paspor biasa 48 halaman adalah Rp. 355.000. Paspor bisa diambil 3 hari kerja setelah bayar. Untuk pengambilannya, kita cukup membawa bukti pembayaran dan kertas billing code yang diberikan saat wawancara.

Dokumen permohonan paspor :
1. KK
2. KTP
3. Akta Kelahiran/ Ijazah
Semua berkas dibawa asli dan fotokopi masing-masing satu di lembar A4.

Bawalah segala jenis keperluan yang memungkinkan untuk diminta oleh petugas Imigrasi, karena biasanya mereka meminta beberapa dokumen tambahan diluar dokumen yang telah disepakati, seperti :
1. KTM (jika anda mahasiswa)
2. LoA atau surat undangan kegiatan internasional
3. Surat rekomendasi dari kampus/ kantor/travel atau instansi lain

Last but not least, saya sarankan pada teman-teman untuk segera mengurus paspor sebelum antriannya semakin panjang dan terbengkalai saat membutuhkan. Coba mengurus sendiri akan jadi pengalaman yang lebih menyenangkan daripada menggunakan jasa. Saat paspor ditangan, kita akan lebih puas melihat hasil dari kerja keras kita. Nggak ada salahnya kok untuk punya paspor walaupun  belum ada rencana perjalanan. Siapa tahu malah termotivasi buat jalan-jalan setelah ada paspor. So, are you ready to travel the world?

You Might Also Like

8 komentar

  1. Caa, kemana arul di saat km sangat butuh org buat menemani wkwk. Waah kalo km ajak aku, aku pasti mau apalagi jalan jalan nekad ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo ini nanya di ig sih aku mention langsung orangnya 😂 nanti kita jalan bareng ya kak! Ku agendakan wkwk

      Hapus
  2. Yaampun Ocha nekat tenan sumpah. Kok brani banget ke Kediri malem2 dan nggembel di sana. Gils gils
    Wah kyknya bakal ada rencana liburan ke luar ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk, Bang Feryyyyy katanya nggak perlu takut karena Allah bersama dengan kita :p doakan lancar yaaaa :D

      Hapus
  3. Yeay,, akhirnya paspornya jadi meskipun ada dramanya. Jadi inget drama aku sendiri pas bikin e-paspor di Jakarta, padal domisiliku di Semarang. Mbaknya hampir nggak mau ngurusin pembuatan e-paspor ku gara-gara domisili. Duh,, untung dramanya happy ending.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang sih, kalo mau jalan agak jauh emang perjuangannya keras banget. Nggak ada luar negri tanpa drama duluan di dlm negri wkwk. Selamat, kamu berhasil menaklukkan petugas imigrasi. Hehehehe

      Hapus
  4. Ya ampun caa, sama banget perjuangan nya, aku bolak balik kantor imigrasi, disuruh urus surat rekomendasi dari kampus (pdhl udah bukan mahasiswa), akta kelahiran ada tipe x nya dikit gak diterima (pdhl yg tipe x petugas akta waktu aku baru lahir). Eh berkas udah lengkap ketemu orang itu lagi, disuruh lepas softlens (bening pdhl) dan aku gak bawa air softlens, terpaksa aku lepas terus cuci pake air gelas terus pake lagi, perjalanan pulang mataku perih, sampe rumah langsung kubuang softlens nya. Ampun deh perjuangan banget, btw waktu km bikin masih belum ada kah antrian passport online?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaampun emg ya mbak, kalo mau jalan2 itu kudu struggle dulu :(( btw udah ada antrian online, tapi di malang sm surabaya full sampe tahun depan (waktu itu 2017, antrinya sampe ke 2018). Ada yg di darmo surabaya baru bisa proses 2 bulan kemudian. Sdgkn aku butuh cepet, makanya ke tempat yg belum ada antri online. Gituuu

      Hapus