KE TAMAN IMPIAN JAYA ANCOL AJA!

00.05

The Worst Day Traveling is better than The Best Day Working

Taman Impian Jaya Ancol

Kembali datang ke Jakarta adalah sebuah cita-cita. Walaupun banyak orang bilang "mau ngapain di jakarta?", Ya suka-suka saya dong. Ah!

Tulisan kali ini nggak banyak menceritakan tentang indahnya tempat wisata, tapi, baca aja yuk! 

Seperti biasa, KA Matarmaja selalu jadi primadona. Kursinya memang sekeras hatinya, eh maksud saya kursinya memang keras dengan sandaran 90 derajat, tapi saya tetap cinta karena harganya paling memahami isi dompet. Hehe.

11 Oktober 2017, pukul 17.30 kereta saya berangkat dari Stasiun Kota Malang ke Stasiun Pasar Senen Jakarta menempuh 16 jam perjalanan.

"Wah, mumpung masih pagi, ke Ancol aja ah!". Berbekal googling tipis, nanya-nanya seadanya, dan rasa sok tau cukup tinggi, saya langsung pesan tiket KRL menuju stasiun Kampung Bandan.

Dengan masih membawa carrier dan keringat bercucuran (bayangin sinema pintu taubat pas emaknya lagi jual ubi rebus keliling kampung), saya berjalan melewati perkampungan dengan jalanan yang berkelok-kelok sampai saya berdiri di kawasan ruko. Di sebrang saya tertulis Mangga Dua. OMG! Inikah mangga dua yang kulihat di tipi-tipi? *mata berbinar.

Saya tarik hp dari tas selempang, order uber bike dan menunggu di depan pintu ruko yang tutup setelah menerima konfirmasi penjemputan dari bapak Uber.

Loh? Muatek aku!!

Tiba-tiba, di hp saya ada tulisan Sim card removed! Signal undetectable.

Hah! Saya mulai panik dong. Ini gimana ceritanya tiba-tiba nggak ada sinyal banget. Sinyal internet dan sinyal telepon di hp android saya sama sekali nggak ada, hilang lang lang lang. Saya buka simcard, keluarin, masukin lagi, sampai puluhan kali tapi hasilnya tetap sama. Saya cuma kepikiran, gimana kalo bapaknya datang dan saya nggak bisa ditelepon.

Saya berusaha tenang, masuk indomaret biar dingin, saya coba buka dan tutup simcard dan berhasil! Yes, Alhamdulillah! Saya langsung buru-buru telepon bapak Ubernya.

"Halo Pak, maaf Bapak dimana ya?"

"Uda saya cancel, KAMU LAMA!"

Jleb! Belum juga setengah jam di Jakarta, sudah kena marah supir Uber.

Saya nggak nyerah dong! Dengan perasaan masih setengah berduka, saya cari ojek online lain yang membawa saya ke Gerbang Ancol. Horeeeeee!!!!


Ini bukan si manis jembatan Ancol. Plis!
Salah satu restoran yang ada di Ancol

Wah! Gini ya Ancol itu ternyata! *gaya anak kampung keluar lagi*
Anginnya cukup bikin kerudung berkibar, airnya nggak begitu bergoyang, panasnya menyengat luar biasa, tapi saya senang. Sangat senang! Nggak nyangka gitu, ternyata kaki ini benar-benar bisa menapak di pasir putih pantai Ancol yang selama ini cuma ada di angan-angan.
Padahal di Ancol gabut banget, tapi saya tetap “sok” bahagia! Saya terbiasa untuk appreciate setiap perjalanan kecil saya sih. Jadi, kemanapun dan segaring apapun, buat saya nggak ada perjalanan yang nggak berkesan.

Sebenarnya sholat dimana aja bisa, tapi nggak tahu kenapa, setiap kali ke Jakarta rasanya pengen mampir ke Masjid Istiqlal. Jadilah saya hijrah dari Ancol ke Masjid Istiqlal. Setelah turun dari gojek, saya malah ketemu bule yang lagi bingung nanya ongkos ke Hotel Century. Sayangnya, nggak ada supir yang bisa bahasa inggris sama sekali! Jadilah saya sok jadi guide, nolongin mas bule ini buat nawar harga sampai 40 ribu sesuai yang dia request. Setelah deal dia ngajakin saya selfie. Saya sih macak artis gitu, nggak ngajakin selfie balik dan nggak minta akun Instagram. Duh, padahal ganteng banget! *Menyesal dalam diam*

Setelah sholat dan leha-leha di Istiqlal, saya meneruskan visi utama buat pergi ke Filosofi Kopi.

Brrrmmm!! Pas sampai disana, ternyata Filosofi Kopi nggak aduhai yang saya bayangkan. Saya kira suasananya bakal sepi aja gitu, ternyata rame banget! Bahkan menurut saya nggak kondusif kaya “Ngesis Coffe”. Apakah semua yang mampir ke Filkop adalah orang-orang sse-ambisius saya?
Filosofi Kopi Melawai

Walaupun nggak ketemu ayang Chicco Jerikho, saya tetap suka kok mampir kesini. Apalagi setelah panas-panasan di jalan, akhirnya bisa minum Ice Green Tea Latte yang ajiiibbbb banget. Menurut saya, susunya kerasa banget, nggak enek karena no sugar, tapi rasanya juga nggak hambar kok! Recommended! Anw, saya nggak mau banyak review filkop dan jenis-jenis minumannya, karena saya memang nggak begitu ngerti tentang kopi. Tapi, karena the biggest mission in Jakarta are makan mendoan dan pergi ke filkop,  kesimpulannya ya jelas, mission complete!


Filosofi Kopi

FYI, Ternyata Jl. Melawai 6 alias alamatnya Filkop ini ada di dalam area Blok M Square.
Jadi, kalau teman-teman naik kendaraan umum, pilihannya kalau nggak turun di depan gang melawai 5 yang dekat entrance gate blok M Square dan jalan sedikit ke Melawai 6, atau masuk dan bayar ongkos parkir buat bapak Gojeknya. Saya sih milih jalan!

Dibalik suka cita, selalu ada derita yang mendera.

The last day in Jakarta :
Hari terakhir di Jakarta mengharuskan saya pergi ke Solo. Biasanya sih saya selalu naik kereta untuk perjalanan yang lumayan jauh. Tapi keberanian backpacking saya ternyata sedang diuji. Tiket kereta ludes untuk tanggal tersebut dan saya terpaksa naik bus.

Saya benar-benar merasakan kerasnya Jakarta di terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Terlalu banyak calo yang nggak punya hati disini. Apalagi saya jadi korbannya!

Saya lebih nggak tega lagi sama seorang Ibu yang datang dengan kedua anaknya. Belum turun dari Bajaj, para calo sudah menyerbu. Ibu itu bilang belum mau pesan tiket sekarang karena masih dalam keadaan sedih, belum tenang dan sedang ada masalah. Jadi mau tenangkan diri dulu baru memutuskan mau naik bus kapan.

Sayangnya, para calo ini justru marah-marah dan terus mendesak Ibu untuk pesan tiket saat itu juga. Ibunya sampai nangis mengusap air mata dengan kerudungnya, sambil terus bilang “saya ini masih suasana sedih mas. Tolong yaaa, nanti dulu. Nanti kalau saya sudah tenang saya pasti pesan tiketnya”.
Para calo tetap nggak mau tahu. Tetap memaksa sambil marah-marah. Akhirnya si Ibu pergi dari terminal demi menghindari calo. Saya jadi lumayan lega.

Saya memang merasa sangat tertipu dengan bayar Rp. 270 ribu untuk pergi dari Jakarta ke Solo. Apalagi jadwal busnya nggak jelas dan saya juga nggak punya sumber yang credibel buat ditanya harusnya naik apa, darimana dan jam berapa. To be honest, ini adalah perjalanan terburuk dalam hidup saya! Calo yang menjanjikan saya untuk dapat fasilitas makan dan selimut dalam bis tiba-tiba hilang. Katanya berangkat jam 09.30, ternyata jam 10 pun belum datang. Akhirnya saya benar-benar yakin kalau saya ditipu calo!


Tiket tipu-tipu dari calo.
Tiket baru setah ditipu :)

Yang lebih parah lagi, bus saya diganti ke bus lain yang harganya Rp. 180 ribu-an. Kok saya bisa tau sih? Ceritanya, pas lagi di kursi tunggu, saya tanya ke Bapak dan Ibu yang ada di sebelah saya. Mereka naik bus Aneka yang harganya Rp. 200 ribu jurusan Pacitan, dan itu adalah bus yang sama dengan yang saya duduki saat itu. Pas pemeriksaan tiket, Bapak kerneknya malah memperjelas dengan sebuah kalimat "Ooooo.... Ini tadi belinya sama calo ya mbak, harganya Rp. 180 ribu ya". Fix, saya benci banget sama calo!
Saya benar-benar ditipu harga, waktu, dan fasilitas!

Saya kok gampang banget ya dibohongin?
Itu adalah kalimat yang terus berputar-putar di kepala saya di sepanjang jalan kenangaan Jakarta-Solo.

Naik bus pun belum mengakhiri penderitaan. Saat bus mulai berjalan, saya coba buat tidur. Tiba-tiba saya dibangunin dan disuruh pindah ke belakang dengan cara yang sopan! FYI sih, saya sudah disuruh pindah 2kali. Hati ikutan capek lihat dua sejoli yang pelukan terus dalam bus, sepanjang jalan nggak lepas gandengannya! Demi Allah, nggak bohong!

Parahnya lagi, bis yang ngaku eksekutif ini masih mengangkut penumpang di pinggir jalan. Helooooo! Bukannya bis eksekutif berhentinya di terminal aja ya?

Nggak lama setelah berhenti di daerah Pekalongan, tiba-tiba ada penumpang laki-laki yang duduk disamping saya. Dia ngajakin saya ngobrol ngalor ngidul yang sampai bikin saya takut sendiri. Masalahnya dia nggak seperti orang lain yang ngajak ngobrol seadanya, ini bahas privasi banget! Sampai tanya nanya nomor hp, pacar saya orang mana, sok ngeramal arti nama saya dan memuji diri sendiri! Hashhhhhh!

Saking parnonya, saya coba cari-cari cutter dan korek api yang ada di tas buat persiapan. Walaupun, kalau memang benar orang ini jahat, saya pasti bingung gimana cara nusuknya, mana tegaaa! --"

Saya benar-benar nggak ada maksud untuk menggunakan jasa calo, tapi pas masuk di area yang katanya Terminal Lebak Bulus itu, semua orang langsung berdatangan maksa saya buat sebut kota kota tujuan. Saya pikir semuanya ya pegawai agen!

Hari itu, saya nggak punya rasa pengen makan, minum, pipis, boker. Serius! Hidup saya hampa banget! Cuma kepikiran kapan saya sampai Solo, ketemu Novi, teman saya di Solo dan bisa tidur dengan posisi kaki selonjor. Segera selesaikan semua urusan di Solo dan balik ke Malang cepat-cepat! Sesederhana itu.

Menyesal atas perjalanan ini? Sedih sih banget, menyesal mungkin sedikit, tapi lebih banyak bahagianya kok! Saya yakin setiap perjalanan adalah proses pendewasaan diri. Bukannya pengalaman itu guru paling baik? Harusnya kita nggak takut dong buat terus bertemu guru-guru yang lain? Kalau saya nggak jalan sejauh ini, saya nggak akan pernah tahu gimana cara survive sendiri dan antisipasi buat perjalanan berikutnya. Namanya juga backpacking, ya begini resikonya.

We need to be careful, but no need to stop walking!
because Paulo Coelho said "The Adrenaline and stress of an adventure are better than a thousand peaceful days"

You Might Also Like

1 komentar

  1. Cerita lomba di jakarta sama solo nya ga dimasukkin nih kak rahma? 😄

    BalasHapus