BROMO DIPENUHI WISATAWAN MANCANEGARA

15.42

Masih ingat konsep 3B-nya beauty pageant? Yap! Itulah brain, beauty, behaviour yang harus selalu dimiliki oleh calon Puteri atau duta-dutaan yang berlaga di ajang kecantikan dan kegantengan baik tingkat regional, nasional hingga dunia. Jangan lupa, selain BBB (brain, beauty, behaviour), Indonesia juga punya BBB yang lain yaitu sebuah grup vokal Bukan Bintang Biasa yang dibentuk oleh Melly Goeslaw bersama Raffi, Ayushita, Bella dan Dimas Beck.

Daannnn selamat! Kamu telah membuang satu menit pertama untuk membaca bridging yang sama sekali nggak nyambung dengan cerita kali ini. Maafkan daku ya teman-teman. Hehe.

Disinilah perjalanan saya dimulai. *Cling*

Sudah kesekian kalinya saya pergi ke Bromo, tapi nggak pernah sekalipun merasa bosan. Waktu itu kebetulan ada penutupan program Darmasiswa RI di Universitas Muhammadiyah Malang. Acaranya sih simpel, tapi ribet banget. Sekitar 500 orang dari puluhan negara yang mendapatkan beasiswa untuk belajar di Indonesia berkumpul karena sudah menyelesaikan masa studi dan akan segera kembali ke negaranya masing-masing. Kebetulan, saya dikontrak ngemsi full package selama 3 hari buat acara penutupan tersebut. Nah, di hari terakhir agendanya visit Gunung Bromo.

Ada satu yang paling berkesan, setelah saya ngemsi di salah satu rangkaian acara penutupan, seorang darmasiswa asal korea ngajakin saya ngobrol dan makan bareng. He told me manythings. Yang bikin terharu adalah, dia selalu nurut dengan peraturan panitia, nggak pernah mengeluh dan sangat senang bahkan memuji Indonesia secara “berlebihan” di depan saya.

Ini dia darmasiswa dari Korea Selatan.
Dia loh ya yang ngajakin saya foto bareng. Hehe

Yuk lanjut!
Bromo memang selalu jadi wisata andalan yang dikenalkan ke bule selama ada acara mancanegara di kampus ini. Selain memang aksesnya yang cukup mudah (bisa ditempuh dengan kendaraan sampai dekat dengan kawah), gunung Bromo yang memiliki tinggi 2329 mdpl mampu menyajikan pemandangan yang sangat menjanjikan.

Setelah dua hari ngemsi sampai kenalan dengan beberapa mahasiswa asing, tibalah hari pemberangkatan ke Bromo. Malam itu kami, maksudnya saya, panitia, buddies, dan darmasiswa kumpul jam 11 malam di kampus. Nggak ding, yang di kampus cuma segelintir orang-orang humas saja. Darmasiswa dan buddies sudah berkumpul di hotel yang mereka tempati. Nggak saya sebutkan ya nama hotelnya, nanti dikira endorse lagi!

Kami semua berangkat naik bus melalui rute Nongkojajar-Pasuruan. Ada 3 rute lain yang dapat dipilih yaitu via Tumpang-Malang, Probolinggo atau Lumajang. Untuk rute Probolinggo dan Lumajang saya belum pernah lewati, tapi percayalah, akses termudah dan termurah ya lewat Pasuruan ini.

Setelah dapat kursi saya langsung merem dan nggak ngerti deh ada apa dijalan. Tiba-tiba sampai di parkiran yang sesak karena penuh dengan bus yang bertukar dengan jeep, juga gundukan manusia-manusia berbahasa tidak familiar dengan telinga saya. Maklum, for the first time nih naik bus ke Bromo, jadi ya dimanfaatkan buat tidur banget. Biasanya saya jadi temannya "si Boy anak jalanan" yang naik motor kemana-mana gitu loh! Haha.

Medan yang cukup berbahaya membuat mobil keluarga, bus dan kendaran sejenisnya nggak boleh masuk ke kawasan ini, takutnya mogok atau gores antara bagian bawah mobil dengan jalanan. Sebagai gantinya, kita harus menyewa jeep/hardtop dan sopir yang bisa diisi maksimal 6 orang dengan biaya sewa Rp600 - 700 ribu bergantung pada paket spot yang dipilih di kawasan Taman Nasional. Kalau kamu pengguna sepeda motor, silakan saja terus naik turun menikmati semua yang ada di dalam area Taman Nasional tanpa bertukar dengan jeep. Nikmat mana yang kamu dustakan duhai pengguna motor?

Walaupun gunung Bromo adalah gunung yang mudah dijangkau, tetap disarankan untuk berhati-hati dan membawa pakaian penghangat karena dinginnya bisa jauh dibawah 10 derajat celcius. Saya yang sudah beberapa kali kesana saja tetap pakai kaos 3 lapis, masih ditambah jaket, syal dan sarung tangan. Hiy, so cool!

Kalau sudah terlanjur sampai dan lupa membawa penghangat, kamu bisa membeli di salah satu pedagang yang berjualan disana. Tidak hanya menjual syal, sarung tangan dan topi, beberapa diantaranya bahkan menyewakan jaket tebal dengan hiasan bulu-bulu bak syahrini yang cetar membahana. Wah saya kan jadi takut dibilang sesuatu. Hehe. Meski demikian, kita harus pintar-pintar menawar, karena seperti biasa, “cap” turis yang melekat dalam diri kita ini membuat semuanya dijual mahal-mahal. Hufet!

Melihat banyak orang berlalu lalang, saya jadi lapar. Loh? Kan nggak ada hubungannya. Ya mau bagaimana lagi, saya berdiri tepat di depan dua warung yang menjual menu favorit sejuta umat, Indomie! Sayangnya, pas saya mau pesan, mbak Rina, salah satu orang humas manggil dan mendekat ke saya “Cha, makannya diatas aja ya. Ini mobilnya mau berangkat.” Hih, for the first time saya nggak senang dipamggil mbak Rina. *Banting meja*

Setelah mendapatkan jeep, saya dan 4 orang teman darrmasiswa beserta seorang buddy dari Jogja pergi menuju penanjakan yang merupakan view point utama untuk catching sunrise. Gas mulai diinjak. Seperti biasa, sopir ugal-ugalan pun beraksi. Berusaha semaksimal mungkin agar tampak mirip dengan Michael Schumacer, setir dibanting ke kanan dan ke kiri mengikuti jalur perbukitan. Jalurnya saja sudah ngeri, ditambah pontang-pantingnya setir, saya jadi pusing tujuh keliling!

Damn! Ternyata naik jeep saat high season bukanlah pilihan tepat. Tamu yang datang membludak membuat jeep diparkir hingga jauhhhhh dibawah penanjakan yang menjadi tujuan dari perjalanan ini. Hadeuh! Saya dan teman-teman harus jalan jauh banget sampai dinginnya Bromo tergantikan dengan dinginnya keringat yang mulai menetes dari jidat ke bibir saya. Asin, huek!

Well, Malang memang nggak pernah berhenti menyuguhkan beragam-macam panorama alam. Terlebih Bromo yang tak lekang oleh waktu seperti lagu Kerispatih. You have to know bahwa, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini merupakan kawasan konservasi yang memiliki luas 502,8 km persegi. Struktur dari kawasan ini sendiri adalah hasil proses geologi dan vulkanologi secara alami selama ribuan tahun. Keren kan?

Setelah berjalan jauh sampai ada kasus..... ah saya nggak cerita disini deh, nanti dikira menjelek-jelekkan Mendikbud, terus blog saya dicekal. Hiy takut!

Kami tiba di penanjakan. Teman-teman darmasiswa yang sudah terlebih dahulu tiba sudah sibuk dengan kamera masing-masing karena tak ingin kehilangan momen indah ini. Benar-benar nggak ada duanya! Penanjakan memang menjadi view point sebelum nantinya kita akan diajak pergi ke Lautan Pasir dan Kawah Gunung Bromo. Terlebih, sunrise adalah segalanya bagi turis. Saya jadi semakin bersyukur karena tinggal di negara yang punya banyak tempat wisata (walaupun bukan negara maju, apalagi super power).


Eh ini sunrise-nya bukan di Penanjakan.
Waktu itu penanjakan ruame banget sama Bule sampai kamera saya terhalang!

Setelah ber-sunrise ria, saya kabur sebentar ke warung buat makan Indomie kuah dan teh panas. Kuah Indomie jadi tidak terlalu panas karena suhu udara yang sangat dingin. Pernah satu waktu teman saya (melakukan sebuah kesalahan besar) pesan Indomie goreng. Wih, mie-nya jadi kaku seperti masih mentah. Nggak ada hangat-hangatnya sama sekali. Saya ngakak banget sih karena kegoblokan itu. Ndilalah malah saya jadi korban suruh menghabiskan mie-nya. Hmm, jangan dicontoh ya!


Wah kebetulan banget ada nyempil satu foto saya yang dijepret sama  Koko @hariobbie

Matahari sudah “gonjreng-gonjreng” menyinari bumi pertiwi. Saya turun dari mobil jeep yang membawa kami hijrah dari penanjakan ke lautan pasir. Saya kok lupa ya habis main-main kemana. Pokoknya saya jadi sendirian, sampai ada darmasiswa dari Tajikistan yang ganteng banget kayak bintang film nyamperin saya. Namanya Mamurjon. Dia curhat ngalor ngidul ke saya tentang acara dua hari kemarin. Beberapa kali kami ditawari naik kuda saat berjalan bersama, “Mister naik kuda sampai atas puncak seratus lima puluh ribuan. Ayo daripada capek!”, seru Bapak-bapak yang menunggangi kuda sambil berkalung sorban sarung.

“Cha, my friends told me that they will make the price more expensive than usual because we are Bule. Is that true? How much u usually pay for riding a horse?”

Duh, ternayata tragedi manfaatin bule ini sudah terdengar di telinga bulenya sendiri! Saya mbatin saja sih sambil melempar senyum terindah ke Bapaknya sembari menjelaskan ke Mamurjon bahwa biasanya memang Rp30 atau Rp50 ribu-an.


Ini Mamurjon dari Tajikistan.


Kenang-kenangan buat Mamurjon.

Tidak jauh di depan, saya bertemu dengan seorang gadis india yang namanya .... waduh kok saya bisa lupa tiba-tiba pas lagi nulis ini ya. Hmm. Anggaplah namanya Bunga. Mamurjon tiba-tiba bertemu dengan temannya sehingga saya dan Bunga hanya jalan berdua. We talked about manythings. Seringkali saya dijejali pertanyaan dan pernyataan mencekik yang membuat lidah saya seperti patah tidak mampu menjawab sepatah katapun.

“Kenapa sih negaramu sukanya impor air dari perancis padahal disini banyak air bersih?”

“Kenapa negaramu membolehkan pembangunan alfamart dan indomart yang jaraknya berdekatan dan berjumlah banyak?”

“You know what, the first day we came here they took us to many places, going around there. The first day! I’m so tired and got a bad mood! Why do they did it?”

Waduh kok saya diteror terus begini, please somebody help me to answer and explain those questions and statements!

Waktu itu sih saya nggak melakukan hal lain selain ngeles dan banyak-banyak minta maaf. Saya bilang saja kalau air kita ini produksi dari air pegunungan di Pandaan Jawa Timur, mereknya saja yang ala-ala perancis. Nggak ngerti deh itu benar atau nggak, yang penting jaga citra dulu. Soal minimarket saya senyumin saja sambil pura-pura nggak dengar. Semoga pas dia nanya ke orang lain jawabannya lebih maksimal. *Ninggal kabur*


Ini saya dan gadis India yang namanya saya samarkan jadi Bunga.

Bunga ini suka banget sama fotografi. Menurut dia, upload foto landscape lebih asik daripada foto wajah terus-menerus. Dia bahkan enek lihat sebagian users yang sering upload foto selfie setiap hari. Wah setelah saya cermati, Bunga lumayan njijris ya! Haha.

Untuk sampai di kawah Gunung Bromo, kita akan melewati lautan pasir terlebih dahulu, kemudian melanjutkan perjalanan melewati perbukitan yang merupakan gundungan tanah. Ada dua pilihan, berjalan kaki hingga puncak, atau naik kuda hingga perbatasan anak tangga. Selama ini saya selalu memilih mendaki dong! Kata mbak Trinity, traveler harus punya jiwa adventurous, (itulah bagian dari alasan berhemat) hehe.


Tuh kan berdebu buanget!

Keren kan! Pesona Indonesia loh ini

Di musim kemarau, jalanan akan sangat berdebu saat didaki. Ganjarannya, kawah akan terlihat sangat cantik dengan bau khas belerang yang menyengat. Kepulan asap jelas terlihat keluar melalui lubang yang ada di gunung aktif tersebut. 
Pernah di akhir tahun 2016 saya berkunjung saat musim penghujan, jalannya tidak berdebu, tapi cukup licin sehingga kita harus ekstra berhati-hati. Sesampainya disana, kawah tertutup awan kelabu. Semuanya abu-abu tanpa ada goresan warna lain sedikitpun.  Saat erupsi gunung Bromo terjadi pada awal tahun 2016, itulah pemandangan yang menurut saya indah. Walaupun termasuk kondisi waspada, tapi erupsi justru menarik perhatian saya. Saat itu kita tidak diperkenankan mendekat apalagi menaiki kawah. Pengunjung hanya dapat melihat kepulan asap yang kadang berwarna-warni dari kejauhan. Keren banget!


Kawah Gunung Bromo

Pergi ke kawah sebaiknya tidak lebih dari pukul 9 pagi. Asap yang dihembuskan berbahaya untuk kesehatan jika sudah melebihi jam tersebut. Itulah kenapa wisatawan biasanya disarankan untuk meninggalkan kawah selepas jam 9 pagi.

Setelah mendaki kawah, kami tidak melanjutkan ke Savana, bukit teletubbies atau spot lainnya. Para darmasiswa langsung diarahkan menuju pendopo untuk makan pagi dan penyambutan dari Bupati Pasuruan. Ah, Bapak Bupati ini kalau ada Bule saja bikin acara gede-gedean. Kalau sarana prasarana daerah yang kurang memadai, nasibnya bagaimana dong Pak?

Setelah makan pagi, kami disuguhi tarian dan beragam kebudayaan daerah khas pasuruan. Waktu yang sudah semakin siang mengantarkan kami untuk kembali pulang ke hotel masing-masing dan segera berkemas untuk pulangggggg.

Saya sudah say goodbye dengan teman-teman saat berada di Gunung Bromo. Entah kapan, tapi saya tetap berharap bisa bertemu lagi dan terus menjalin relaasi dengan mereka. Beberapa bahkan ada yang minta di follow di sosial media, minta nomor WhatsApp, bahkan Id Line. Saya dengan senang hati berbagi kontak dengan mereka. Apapun yang terjadi, kita sesama manusia tetap teman kan?

Yay! Selamat jalan ya teman-teman darmasiswa RI. Selamat pulang kampung ke negara masing-masing. Jangan lupa sampaikan ke seluruh teman dan pejabat yang ada di negara kalian bahwa Indonesia telah berusaha menjamu kalian dengan maksimal. Semoga kalian bisa mengenang usaha baik dan memaafkan segala kekurangan kami.

Peace and Love,


Rahmania Santoso, an Indonesian

You Might Also Like

0 komentar