ASINNYA SNORKELING DI BOLU-BOLU

05.39

Welkam bek kalo kata orang-orang. Hehe.
Long holiday is coming, fellas! Cihuyyyy, azek-azek.

Snorkeling

Di tengah padatnya jadwal, beberapa bulan kemarin saya kepikiran buat nyobain olahraga snorkeling. Kalau biasanya ke pantai cuma mainan ombak dan mentok-mentok renang dengan terpaksa (karena nggak suka renang di laut, asin!), kali ini saya coba beranikan diri buat lihat yang indah-indah dibawah laut. #teambususi


Karena agendanya ke laut, saya ajakin Lidya yang juga doyan main air. Lumayan, anti ribet karena selalu mau kalau diajakin. Eh, apa emang dia nggak punya teman selain saya ya? Ekekekek.

Alhasil, setelah ribet browsing dan ribut berdebat menentukan arah dan tujuan, kami sepakat for having a short holiday ke Pantai Lenggoksono di daerah Malang Selatan. Ceritanya sepaket ada tiga destinasi nih, direction-nya sih, dari pantai Lenggoksono kami akan dibawa ke Pantai Bolu-bolu buat snorkeling dan mampir ke Air Terjun Banyu Anjlok.

Dengan bermodalkan tekad yang kuat dan motor Honda Beat yang full diisi Pertamax, kami berangkat sekitar pukul 8 pagi dari Kota Malang. Jalanan hari itu cukup lancar, hanya sedikit terhambat di beberapa titik tertentu. Kami sangat menikmati perjalanan hingga tiba di Turen, sebuah daerah kecil yang menyebut dirinya "kota" di Kabupaten Malang. Saya sering berkunjung dan pernah beberapa hari tinggal disana saat produksi film pas semester 5. Frekuensi berkunjung membuat saya cukup hafal tempat makan murah dan enak. Dasar pecinta mie, tanpa berkata apa-apa saya tiba-tiba berenti di depan warung Mie Ayam Barokah, warung mie langganan di Turen.

Lidya yang kaget tapi pengen makan mie juga akhirnya turun dari motor. Saya promosi dong kalau ini adalah mie terenak di Turen. Mie-nya produksi sendiri, porsinya tidak begitu banyak tapi padat dan mengenyangkan. Cocok lah buat sarapan sebelum berenang di laut lepas. Tidak lama setelah memesan 2 porsi mie, teman saya yang tinggal tidak jauh dari warung datang untuk beli mie juga. Eh, jadilah kami diajakin mampir ke rumahnya dulu. Lumayan dapat es teh gratis! Saya disuruh meracik es teh-nya sendiri sih, langsung saya buatkan se-teko penuh buat kami bertiga. Setelah pesanan datang dan makan dengan lahap, kami ngobrol-ngobrol sebentar. Teman saya memberikan direction untuk pergi kesana. Pas mau pulang, kami masih dikasih kabar gembira karena mie-nya juga ditraktir sama teman saya. Uh baiknya! keuntungan bertubi-tubi, es teh dan mie ayam gratis, serta peta dadakan. Mantap!

Tanpa berlama-lama, kami lanjutkan perjalanan ke arah Dampit, dari sana tinggal ikuti petunjuk jalan yang ada. Namun semakin jauh berjalan saya harus lebih seing bertanya karena tiba-tiba saja petunjuk hilang. Lah, kalau nyasar bagaimana? Tidak hafal jalan memang jadi masalah, tapi ya itu esensinya traveling. Kalau aman-aman saja pasti jadi lempeng. Beberapa kali kami putar arah karena salah belok dan salah ambil ruas jalan. Jalanannya juga semakin berliku, lubang-lubang bahkan beberapa kali masih jalanan tanah. Sayang banget ya, banyak jalanan ke tempat wisata yang kurang layak di Indonesia khususnya yang mengarah ke pelosok seperti pantai. Padahal wisatawan juga nggak sedikit-sedikit banget. Mungkin karena Indonesia terlalu luas, jadinya agak lama juga buat perbaiki infrastruktur satu per satu. Atau malah duit buat memperbaiki yang keduluan habis sebelum sampai di lokasi? Ups, yuk khusnudzon!

Hati saya berdebar ketika melihat pohon kelapa yang tinggi di kanan dan kiri jalan. Wih, berarti sudah dekat ini. Ternyata nggak juga! Sesekali kami melihat air laut yang begitu biru saat berada di ketinggian. Sumpah itu pantainya? Kami bertanya-tanya dan ribut sendiri di jalan karena terlihat bagus buuaangett! Jalan akhir menuju Pantai Lenggoksono rupanya lumayan curam, sampai tangan saya sakit banget karena nahan rem sangat kencang. Biaya masuk kesana cukup murah, Rp10 ribu per orang.

Pas sampai di depan pantainya, WIIHHHHH! Kok gersang begini? Airnya butek dan nggak bening, yaiyalah butek jelas nggak bening! Loh gimana sih? Terus saya tadi lihat apa?  Hmm saya mulai gugup. Duh gimana ini, 4 jam on the way naik motor dan pantainya..... tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mencoba menghibur diri, kami memutuskn buat sholat dulu saja, siapa tahu pantainya berubah jadi cantik.

Setelah sholat kami berjalan-jalan dulu di warung pinggir pantai. Ada satu pos utama yang menyediakan persewaan alat snorkeling dan berbagai macam perangakat bawah air lainnya, seperti kaki katak, handphone case dan kamera. Beberapa warung lainnya menjual jajanan dan minuman. Dasar ndeso dan cuma mikirin perut sendiri, waktu disuruh beli roti saya bilang nggak lapar. Padahal rotinya itu buat mancing ikan-ikan biar datang dan berenang bareng pas snorkeling. Haha!

Drama-nya terjadi pas saya sudah semangat mau berangkat, ternyata harus nunggu perahu sampai full 10 orang dulu untuk akses ke Pantai Bolu-bolu. Padahal hari itu pantainya sepi buuaangetttt! Cuma ada saya, Lidya, dan beberapa anak yang milih berjalan kaki buat menuju ke Air Terjun Banyu Anjlok. Kok ada-ada aja sih. Sebenarnya biaya naik perahu per orang adalah Rp 60 ribu kalau diisi 10 orang per perahu. Tapi kami cuma berdua, wanna cry. Akhirnya saya dan Lidya bikin persetujuan bisik-bisik buat nawar Rp200 ribu per orang biar perahunya mau berangkat walaupun cuma ngangkut kami berdua. Terus saya bilang, “tapi tak tawar satus seket sek ae yo?”. Setelah macak sedih di depan mas-nya, saya yang mau nawar Rp150 ribu jadi batal karena tiba-tiba ditawarin Rp 100 ribu per orang kalau mau langsung jalan berdua. Yes! Berangkaaaattttttt!


Saya dan Lidya siap meluncur

Sewa alat snorkeling semi kedap udara Rp30 ribu, pelampungnya free. Sebenarnya masih ada lagi perlengkapan lainnya seperti kaki katak. Tapi saya tidak merasa terlalu perlu. Jadilah saya berhemat dengan biaya Rp30 ribu saja. Kapal mulai di dorong menuju laut oleh empat orang bapak-bapak. Kami segera naik, bersiap memakai kacamata snorkeling dan pelampung. Yihaaaa, the real adventure begin!
Kapal mulai berayun menuju tengah lautan, semakin jauh meninggalkan bibir pantai. Hanya tersisa dua orang Bapak-bapak yang saya sebut Bapak Sailor.

Setelah berlayar kurang lebih 15 menit, kami pun sampai di tempat snorkeling. Wihhh, airnya biru sekali bikin saya semakin nggak sabar nyemplung. Saya bertanya ke Bapak Sailor apakah ini yang namanya Pantai Bolu-Bolu, “Bukan, nanti kita ke Pantai Bolu-Bolu, ini tempat snorkelingnya saja” kata Bapak Sailor menjelaskan.

Katanya sih, kita sedang beruntung karena air laut sedang bening. Kami pun segera nyemplung. Ya Ampun, saya bete banget sebenarnya, setiap kali napas air selalu masuk lewat selang udara. Alhasil saya nggak seberapa enjoy melihat-lihat alam bawah laut. Cuma beberapa detik udah kemasukan air lagi. Rasa asinnya itu loh, masuk ke tenggorokan saya. Bikin pengen ngeludah kan! Apalagi pelampungnya bukan meringankan, malah menambha beban hidup buat saya. Uh! Pelampung murah nih pasti, nggak fit sama sekali di body saya. Pas dipakai berenang naik-naik sampai ke muka. Rasanya saya pengen nangis sambil sujud kayak stiker line. Masya Allah! Bete banget.


Tuh kan saya nggak bohong, pelampungnya naik-naik.

Kalau ini lidya. hehe

Beberapa waktu setelah itu saya mulai enjoy melihat ikan-ikan berenang. Ada terumbu karang, tumbuhan dibawah laut, ikan kecil warna-warni yang cantik banget. Jadi ingat Film Finding Nemo. Saya jadi mikir, ternyata alam bawah laut itu bagus beneran ya. Selama ini cuma bisa lihat di TV, sekarang bisa lihat langsung pakai kedua mata sendiri. Dream comes true! Mungkin yang saya lihat ini masih termasuk yang "ecek-ecek", belum sekeren yang ada di taman bawah laut lainnya di Indonesia. 

Tapi serius saya senang banget bisa main-main sama ikan, padahal biasanya saya takut kalau berenang di kolam yang ada ikannya. Pernah suatu hari saya liburan di tempat pemandian. Lah ternyata kolam dewasa itu ada ikannya. Waduh, saya berenang sambil takut di cocol gitu. Ikan mas lagi! Nggak fokus berenang malah pengen nyambel jadinya! *krik

Waktu snorkeling, saya mencoba siasati sendiri, sebelum tenggelam terlalu dalam saya harus naik lagi ke permukaan biar selang udara saya nggak kemasukan air laut, terus berulang seperti itu. Salah siapa sewanya yang semi tembus air. Coba pilih yang dry sekalian. Beda Rp5 ribu doang. Pengen untung, malah buntung!

Setelah seru-seruan bareng ikan, saya dan Lidya balik ke kapal untuk pergi ke spot selanjutnya, Pantai Bolu-Bolu. FYI, saya ini bukan pemabuk loh, eh maksudnya nggak mabuk laut. Tapi kok pas lagi berlayar disini rasanya mual-mual. Nggak lama setelah naik kapal, kami sampai. “Hah? Ini apa Pak?” saya yang shock langsung ngedumel. “Ini pantai bolu-bolu mbak” Bapaknya menjawab dengan pasrah. Apa? Ini sih lebih keruh dibanding Pantai Lenggoksono tempat pemberangkatan tadi. Pasir pantainya kasar dan banyak reruntuhan daun dan ranting. Hadeuh! Kami yang sudah nggak mood dengan lemasnya turun dari kapal buat formalitas belaka. Biar bapaknya nggak sia-saia mengantar kesini.

Ada sebuah warung kecil yang berdiri di dekat pantai. Terlihat juga beberapa orang yang ngopi-ngopi disana. Sepertinya ya gerombolan Bapak-bapak sailor dan nelayan lain. Saya dan Lidya hanya bermain sebentar saja. Tidak sampai 10 menit disana. Berusaha cari background foto yang bagus pun tidak dapat. Yasudah, saya menyerah dan minta pulang.

Di perjalanan pulang saya melihat batu yang cukup besar dengan air mengalir dari atas ke bawah. “Itu apa ya Pak?” tanya saya ke Bapak sailor. “Air Terjun Banyu Anjlok, mbak. Ini kita mau kesana. Airnya lagi nggak deras mbak soalnya jarang hujan.” jawab bapaknya seolah menghibur kita. Lidya yang sudah nggak mood ini pengen langsung pulang saja. Tapi saya paksa dia untuk kesana sebentar karena saya merasa butuh air tawar. Sebenarnya  saya juga tidak begitu tertarik melihat air yang hanya “ipik-ipik” begitu. Seperti kran air rumah saya, krik-krik. Uniknya, air terjun ini berada di pinggir pantai. Jadi airnya langsung mengalir ke laut. Tapi kok dia tawar, lautnya sin ya? Kuasa Allah.

Setelah sampai, saya segera berjalan ke arah air terjun tersebut dan boom! Airnya segar buaanget! Memang kelihatanya kecil dari jauh, apalagi kalau dibandingkan dengan Niagara Waterfall (duh, nggak lucu), ya jauh banget. Tapi pas saya berdiri dibawah jatuhnya air, dengan air mengalir deras ke sekujur tubuh saya dari kepala sampai ujung kaki, semua beban langsung luntur terbawa arus air ke laut. Wah, saya salah nih kalau judge from it’s cover yang juelek. Nggak nyangka, justru mood kami kembali baik disini. Bisa ketawa-ketiwi lagi. Horeeeee! Untung mampir.


Air Terjun Banyu Anjlok

Pantai dekat Air Terjun Banyu Anjlok

Setelah bermain-main dan (sumpah) lari-larian kauak film India, kami kembali berlayar dengan wajah yang lumayan sumringah. Kembali berayun-ayun diatas kapal dengan melihat pemandangan alam dari tengah laut. Saya perhatikan mulai dari langit yang begitu biru, matahari yang menyengat kulit, burung-burung yang terbang, hingga pepohonan yang ada di pinggir pantai mengelilingi lautan lepas. Ah, subhanallah! Senangnya bisa dapat kesempatan untuk menikmati semua keindahan ini. Sesekali saya dan Lidya ngobrol. Merencanakan sebuah misi besar, makan bakso setelah ini. hehe.

Pas banget! Di Pantai Lenggoksono ada abang tukang bakso nangkring. Sebenarnya baksonya nggak seberapa enak. Nggak terasa daging lebih tepatnya. Tapi kuahnya yang panas, cocok buat menghangatkan tubuh setelah olahraga, dan yang lebih penting lagu, su’un-nya gratis! Cihuyyyyyy.

Makan bakso selesai, saya dan Lidya kembali pulang ke kos. Sekitar pukul 4 setelah mandi dan sholat Ashar, kami langsung mengambil motor dan berjalan pulang. Ah, sebenarnya ingin menginap. Apa boleh buat, kantor sudah menunggu. Jadilah saya harus kembali dengan segera. Bobokkkkk dulu!

You Might Also Like

7 komentar

  1. Aih, ga hemat banget traveling Bu, bisa jalan kaki malah naik perahu! Lemah. Mana bayarnya mahal banget lagi 100rb. Itu kan lumayan but beli bakso tandon 4 porsi ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh? Kamu mau jalan kaki ke tengah laut --" Jalan kakinya itu cuma bisa ke air terjun. Kalo mau snorkeling ya kudu naik kapal. Hmm

      Hapus
  2. unch mba-mba MC sekarang melebarkan sayap di dunia tulis menulis & backpacking ya mba? :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk biar nggak hilang ditelan waktu :p #katanyagitu

      Hapus
  3. Balasan
    1. Ayo sini mampir! main bareng, biar serunya bareng Hehehe :D

      Hapus