Ada apa dengan JAKARTA? : Ngaca di masjid Istiqlal

05.47

Masjid Istiqlal di malam hari. (Rahmania Santoso would like to thanks to : Google)

Apa yang pertama kali kamu pikirkan waktu mendengar kata Jakarta? Ramai? Macet? Polusi? Ibukota? Banjir? Yuhuuuu that’s all right! Dan dengan segala hiruk pikuk Ibukota-lah hatiku terpanggil untung berkunjung kesana. Asek! Ketika banyak orang berkata “Hellow kamu nganggur banget liburan kok ke Jakarta? Lombok kek, Bali kek, Jogja kek” jawabanku “udah pernah!”.


Karena nggak ada yang mau ikutan nge-trip bareng, jadilah saya seorang diri memesan tiket kereta api via Indomaret yang ada di dekat rumah saya. Enaknya ada self service, jadi nggak perlu antre lama-lama di depan mbak kasir demi menjelaskan destinasi, pilihan kereta, gerbong mana dan duduk sebelah mana. Ewh, ruwet! Yang nggak jarang bikin kesal pembeli lainnya yang mau bayar. Loh kok, jadi bahas Indomaret?

Tibalah hari pemberangkatan. Cihuiiiiiii! Saya berangkat ke Stasiun Baru Kota Malang pukul 9 pagi di hari jumat. Nimas, salah satu teman mengantar saya dengan penuh sukacita, kebetulan hari itu Nimas juga ingin membeli tiket kereta untuk pulang ke rumahnya. Nama kereta dan tujuan saya sudah disebut berkali-kali lewat speaker yang ada di Stasiun. Saya pun pamit ke Nimas untuk boarding duluan. Kami berpisah.

Dengan wajah sumringah ketawa ketiwi, saya masuk ke Gerbong kereta Jayabaya. Karena anak rumahan yang jarang pergi jauh-jauh, Rp250 ribu adalah harga tiket kereta termahal yang pernah saya bayarkan untuk sekali perjalanan, hehe. Makhlum, anak gadis, bungsuh lagi. Papanya suka khawatir kalau saya ngapa-ngapain sendiri, apalagi di tempat jauh karena saya termasuk anak yang ndelowor. Huft!

Kereta mulai bersiul. Nyuuuungggggg! Akhirnya saya berangkat sekitar pukul 10.30. Jarak tempuhnya cukup lama, 13 jam. Tapi saya tidak pernah merasa bosan dalam perjalanan. Malah sangat excited! Ini adalah pertama kalinya saya berjalan jauh, sendirian dan atas dasar liburan, bukan lomba atau cari uang. Walaupun waktunya sangat singkat, hanya 2 hari di Jakarta. Lama dijalan malahan. Waktu itu saya masih bekerja pauh waktu di salah satu radio yang ada di Malang. Keseringan ijin nggak siaran bisa jadi boomerang buat saya sendiri. Alhasil, saya manfaatkanlah waktu libur yang mepet-mepet itu. Pengennya sih liburan Round The World, apa daya “buruh ya ikut kata majikan”.

Sepanjang perjalanan, saya ngobrol dengan banyak orang. Saya tidak terlalu suka diam dan main handphone saat bersama orang-orang baru. Saya lebih suka berkenalan, bergurau bersama mereka, mengetahui tempat tinggalnya, ya walaupun harus tetap dalam porsi sewajarnya. Jangan sampai dia merasa terganggu atas niat humble kita. Banyak penumpang yang mau pulang kampung ke Jakarta. Iya, keberangkatan saya waktu itu memang hanya selang sekitar 14 hari setelah HAri Raya Iedul Fitri. Saya nikmati saja pembicaraan yang mengalir itu.

Setelah menikmati matahari dan cahaya bulan, sayapun sampai di Stasiun Pasar Senen Jakarta hari Sabtu dini hari. Dalam hati saya bergumam, “Omoooo, seriusan nih gue udah di Jakarta? Aaaaaaa  senagnya hatikuuu”. Nggak lama setelah itu, Anas, teman SD saya menjemput saya di Stasiun. Loh, kok bisa kebetulan? Ya pastinya udah janjian lah sebelumnya. Hmm. Jadilah saya pergi ke kos dia. Ternyata, hampir semua kos di Jakarta adalah kos campuran cewek cowok. Kalau kepisah malah nggak laku. LAH! Mungkin memang benar ya, bisnis itu bisa jalan atas dasar kebutuhan konsumen. Jakarta yang metropolis ini, ya mungkin sudah biasa dengan yang campur-campur. Sudahlah!

Saya, cewek udik yang baru saja napak di Jakarta ini lagi kelaparan ceritanya. Ya boro-boro mau beli makan di kereta, takut bujet habis duluan sebelum sampai di tujuan. Nggak makan selama perjalanan pun saya jabani. Padahal lapar banget! Karena nggak mau kehilangan momen Jakarta, saya bertekad harus makan makanan khas Jakarta selama trip. Sebelum sampai di kos Anas, saya transit dulu di depan gerobak abang-abang yang jualan Lontong Sayur. Pas datang makanan yang saya pesan, "Lah? Mana sayurnya?" Saya berbisik ke Anas dengan ekspresi kampungan. Kata Anas ya begitulah Lontong Sayur. Isinya irisan lontong, tahu dan telor bacem dengan kuah yang hangat dan manis. Saya pikir bakal makan sayur lodeh. Sotoy! Soal harga, sebenarnya nggak terlalu mencekik untuk ukuran Jakarta. Rp12 ribu sudah dapat sepiring Lontong Sayur include Teh tawar hangat yang pas diminum di waktu subuh. Perferto!

Setelah sampai di kos Anas, Jakarta tidak lagi terasa panas. Saya disuruh tidur di kamar teman Anas yang cukup esklusif. Kamarnya ber-AC dengan kamar mandi dalam. Selimutnya saja empuk, apalagi kasurnya. Hmm. Saya dengan sabar menunggu adzan subuh, menyegerakan sholat, lalu bobok dengan selimut halus dan empuk yang nggak ada di kosan saya. Kampungan lagi!

Sekitar pukul 8 pagi saya bangun. Cepat-cepat mandi, ganti baju dan sudah sangat siap untuk berangkat. Tapi, pacar Anas dan teman-temannya nggak segera pergi. Alhasil, Anas juga harus stay. Dia mencoba menghibur dengan bilang saya harus santai, pasti bisa ke semua tempat yang saya mau walaupun cuma sebentar-sebentar. Ah! Gimana sih guide saya ini. Kok malah nggelibet sama pacarnya!

Akhirnya, pukul 12 teng teng, pas matahari diatas kepala, kami berangkat. Siapa takut! Pertama, saya minta ke Masjid Istiqlal. Ini adalah masjid besar yang saya dambakan sedari dulu. Masjid ini sering digunakan untuk ibadah besar, seperti pelaksanaan sholat tarawih dan sholat Ied bersama Presiden RI di Jakarta. Dulu cuma bisa lihat dari tipi. "Emakkk, anakmu sholat di Masjid Istiqlal loh sekarang! Yihaaaaaa". Sebenarnya masjid ini nggak  begitu sesuai dengan ekspektasi saya. Saya awalnya membayangkan masjid ini bangunan luarnya seperti Istana yang buwesar banget.  Ternyata nggak begitu. Masjid ini bisa dibilang bergaya sederhana, besar sih tapi nggak kelihatan mewah dari luar. Bangunannya memiliki pilar yang besar dan kuat. Semua pilar, rak buku dan segala piranti lainnya berbalut stainless steel. Wih, saya bisa ngaca di masjid Istiqlal. Cling! Selain itu, karpet yang digunakan untuk alas sholat begitu tebal, lembut dan wangi. Saya makin berlama-lama disini. Kamar mandi dan tempat wudhunya tentu bersih dengan air yang cukup segar. Tapi, buat pemula seperti saya, cukup membingungkan untuk berjalan dari bawah saat lepas sepatu, ke tempat wudhu hingga ke tempat sholat. Walaupun ada petunjuk arah, treknya bikin takut nyasar, cyinnnn!

Di depan Masjid Istiqlal terdapat sebuah Gereja Chatedral yang bergaya Spanyol. Saya yang sebenarnya nggak tau sama sekali ada bangunan itu jadi ingin berfoto. Gereja ini kabarnya adalah Gereja yang dipilih Chelsea Olivia dan Glenn Alinskie untuk pemberkatan pernikahan mereka beberapa waktu yang lalu. Nggak penting juga sih ya.


Rahmania Santoso : Gereja Katedral Jakarta, Juli 2016

Dari Gereja saya berpindah ke Galeri Nasional Indonesia (GNI) yang terletak di depan Stasiun Gambir. Ho’oh betul, stasiun yang keretanya mahal-mahal itu. Buat yang kere kaya saya gini ya Pasar Senen saja cukup, hehe. GNI sendiri merupakan sebuah museum seni. Pengamanannya cukup ketat. Semua barang ditinggal di dalam loker yang terkunci, pengunjung hanya boleh membawa handphone bukan kamera lainnya. Saat masuk pun harus antre karena berkuota sekitar 30an orang untuk sekali masuk. The best part is it’s free. Karya yang terlihat didalamnya sih karya-karya seni rupa seperti lukisan yang buagus bangeeetttt. Pas masuk, saya sempat merasa ini adalah pameran foto. Tapi pas di dekati ternyata kelihatan loh kalau itu lukisan. Wih sangar! Di depan tembok lukisan yang berjarak sekitar 1 meter, terdapat pembatas yang memisahkan antara pengunjung dan karya seni. Intinya sih kita dilarang memegang apalagi mengambil karya tersebut. Selain karya seni rupa, menurut informasi yang beredar, GNI juga sering mengadakan pemutaran film secara temporary. Sayangnya, saat saya berkunjung pemutaran film tidak sedang berlangsung.

Rahmania Santoso : Nah yang ini Anas di Galeri Nasional Indonesia


Dari GNI saya meluncur ke Kota Tua Jakarta. Sayangnya lagi, saya datang terlalu sore sehingga sudah banyak museum yang tutup termasuk museum Bank Indonesia. Huft, sedih! Padahal itu salah satu cita-cita saya kalau main ke Jakarta. Akhirnya dengan berat hati saya masuk ke salah satu museum yang masih buka di sore hari. Dengan membayar Rp10 ribu pengunjung bisa masuk ke museum wayang. Tidak ada pemandu, pengunjung hanya diizinkan melihat-lihat beragam macam jenis wayang yang ada beserta keterangan yang sudah dicantumkan didekatnya. Berfoto boleh saja, tapi kok saya tidak terlalu merekomendasikan. Tempatnya berkonsep hangat yang cenderung remang-remang, sehingga kurang cocok untuk berfoto tanpa lighting yang memadai. Dari museum saya bisa lihat, bahwa sebenarnya kekayaan dan keragaman budaya yang kita punya ini banyak sekali. Sayang terus terkikis. Saya jadi iri dengan Kuba yang tidak punya internet sehingga orang-orangnya tidak terpengaruh dengan budaya luar. Tapi kalau dipikir-pikir ya repot juga kalau nggak ada internet! *Batal iri*

Masih di kawasan Kota Tua Jakarta, nggak lengkap rasanya jalan-jalan tanpa makan jajan. Seperti tekad saya diawal, pokoknya selama di Jakarta saya harus cobain makanan khasnya. Nggak susah kok menemukan Abang-Abang yang jual jajanan Jakarta. Saya memutuskan untuk mencicipi Tahu Gejrot yang komposisinya terdiri dari Tahu Goreng kering yang digunting-gunting sekitar 5 sampai 6 potongan dengan topping bak rujak manis, tapi lebih encer. Rasanya sih mancap banget kalau menurut saya. Sore-sore, dengan angin semilir, makan Tahu Gejrot yang pedas. Ajiiibbbb! Tahu Gejrot ini adalah salah satu makanan khas betawi. Harganya Rp8 ribu. Relatif terjangkau jika melihat UMR di Jakarta. Tapi buat saya ya lumayan, lha wong isinya cuma segelas Aqua.

Belum puas dengan Tahu Gejrot, saya mencicipi kue khas betawi juga yang lagunya sering saya dengar di Soundtrack sinetron lama “Jadi Pocong”. Hiy! Kalau dengar judulnya ya serem, tapi lagunya lucu dan easy listening. Ini saya mendadak lupa lirik gitu, coba-coba browsing tapi keburu takut duluan gara-gara tiap web yang saya buka ada gambar Mumun-nya. Takut!

Back to topic!
Kue Pancong ini mirip dengan kue Rangin kalau di daerah rumah saya. Bedanya kue Pancong lebih besar dan padat banget body-nya. Seporsi Rp10 ribu. Kuuenyang banget. Perut saya sampai nggak muat lagi. Untung ada Anas yang kayaknya kelaparan sampai semua ludes sama dia. Alhamdulillah. Praise to the God.

Setelah makan-makan jajan, kami lanjutkan perjalanan. Ceilah, kaya kemana aja! Sebenarnya saya ingin sekali naik bus wisata keliling kota Jakarta yang disediakan gratis oleh Pemerintah. Apa daya, saya salah halte dan kalau mau naik harus di sebrang jalan yang jauh buanget. Karena merasa masih punya cukup waktu, saya memutuskan untuk pergi ke halte pemberangkatan. Meh! Kalau ini sih antreannya sudah bukan ular tangga lagi. Kalau saya tunggu bisa sampai malam nih. Keburu gelap. Akhirnya sia-sia juga usaha jalan kaki yang saya perjuangkan. Saya memutuskan untuk kembali pulang ke kos Anas dan mengambil ransel saya untuk hijrah ke Bintaro. Loh, ngapain? Sebenarnya saya janjian sama Deri, teman SMA saya di Bintaro untuk Jakarta trip ini, tapi karena di hari pertama saya tiba di Jakarta dia nggak bisa nemenin, jadilah Anas menggantikan Deri jadi guide dadakan buat saya. Berjasa ya si Anas.

Buru-buru balik ini terhenti saat melihat Monas di waktu petang. "Eh, kok bagus begitu, aduh jadi pengen mampir nih". Kata saya sambil terkagum-kagum. Ini juga salah satu cita-cita saya kalau ke Jakarta, pengen main ke Monas. Akhirnya, saya minta Anas untuk mampir masuk ke  Monas sebentar. Aduh, belum masuk saja sudah ribet. Anas lupa parkir motor letaknya dimana karena ada banyak gerbang yang ditutup dan terpaksa harus muter-muter. Ditambah lagi, jalan di sekitar Monas ini banyak yang khusus mobil, nggak bisa dilewatin motor. Modar deh! Saya samapai nggak semangat lagi masuk ke Monas. Setelah sekian lama muter-muter akhirnya ketemu juga jalannya. Yey! Saya langsung masuk dan ngefoto-fotoin Monas itu dari halamannya yang luas banget. Baru saja antre untuk naik bis keliling Monas, hujan turun. Sial! Nggak jodoh banget saya sama Monas. Kesedihan bertubi-tubi terjadi. Hiks. Setelah hujan reda, saya segera balik ke kos Anas dan meluncur ke Bintaro. Tanpa mampir-mampir lagi. Kapok!


Rahmania Santoso : Monumen Nasional, Juli 2016

Belum selesai loh ini derita "anak tiri", keadaan diperparah karna ternyata Anas nggak ngerti jalan ke Bintaro! Kenapa nggak bilang dari awal sih?! Ya Allah, saya sudah capek banget seharian di jalanan. Mau nggeblak rasanya. Saya nanya-nanya ke tukang Gojek, malah sempat minta diantar kesana tapi Gojek-nya nggak mau. Apaaaaa? Gojek aja nggak mau loh padahal kan saya bayar. Hmm baiklah. Akhirnya saya mendinginkan kepala.  Biar bagaimanapun, Anas kan sudah ngantar saya kemana-mana seharian, masa iya saya caci maki cuma gara-gara dia nggak tahu jalan ke Bintaro. Kami berpedoman pada tanya-tanya orang karena batrai kami sudah sama-sama lowbat! Saya sengaja pakai airplane mode biar hemat karena butuh menghubungi Deri ketika sampai di dekat Bintaro. Akhirnya, finally loh ini, suasana hectic tuntas dalam 4 jam perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh hanya 2 jam. Nggak apa-apa, daripada jalan kaki dari Jakarta Pusat ke Bintaro, mending motoran 4 jam! Baiklah.

Sampai di Bintaro, Deri mengantar saya untuk menginap di kos Fiska, adik kelas saya di SMA yang nggak begitu jauh dari kos Deri. Saya mandi, sholat isya’, lalu tidur.
Good night, Fiska!

Ps : Hasil dari jepretan saya yang di kamera handphone banyak yang hilang, jadi terpaksa upload foto dari action cam (yang waktu dibawa kesana ternyata rewel dan rusak. selain itu hasil foto saya kayaknya emang nggak bagus-bagus banget sih), padahal yang di handphone gambarnya lebih stabil. Lain kali saya akan lebih hati-hati dan belajar lagi, deh.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Kalo kamu ke Jakarta lagi, aku nitip kue pocong ya Ca, sama kue kuntilanak, tuyul, suster ngesot, dan lain-lain. Gimana-gimana? udah lucu belum wkwkwk

    BalasHapus