JOGJA: MASIH ISTIMEWA

21.53


Gudeg 32.000, Es teh 5000

Jogja, daerah teristimewa yang daya tariknya nggak pernah surut oleh derasnya arus globalisasi. Tempat yang memiliki beragam alasan untuk selalu datang dan kembali. Terutama buatku. Berkunjung ke Jogja, nggak lengkap rasanya tanpa membawa pulang bakpia dalam genggaman tangan. Eits, tapi nggak cuma bakpia loh. Masih banyak makanan khas Jogja yang sebenarnya sudah mainstream namun terus menjadi idola.


Akhir april kemarin, aku dapat kesempatan untuk berkunjung ke Jogja, namun gagal merealisasikan apa yang aku rencanakan. Hingga di awal Mei aku mendapat kesempatan lagi. Nggak bakalan aku sia-siakan. Waktuku hanya satu hari. Bukan, setengah hari tepatnya. Setelah maghrib aku dan teman-teman langsung menuju Malioboro. Aku memesan Gudeg, Ayam Goreng dan segelas es teh. Gudeg dengan rasa khas yang manis tidak begitu tasty dilidah. Rasanya, bumbu yang diracik kurang mantap. Namun cukup terobati dengan ayam goreng dan nasi yang masih panas. Tahunya dimasak dengan pas. Cocok digunakan sebagai pelengkap. Karena sudah sangat rindu dengan Gudeg, aku terpaksa menikmatinya di sana demi menghemat waktu. Buat kalian yang punya banyak waktu atau sedang berhemat, aku nggak menyarankan untuk makan gudeg di Malioboro. Selain harganya yang mahal, rasanya pun tak seberapa nikmat di lidah. So so lah.

Setelah itu kami menikmati sejenak jalanan Malioboro. Sedikit berbelanja. *Ups banyak berbelanja maksudku, hehe. Jalanan malioboro memang begitu mudah mengambil hatiku. Banyak pejalan kaki. Pedagang yang menjajakan dagangan. Indahnya langit malam itu terpadu dengan mereka yang bersuka cita seperti mengiyakan bahwa Jogja memang istimewa.

Nggak lama setelah itu kami berpindah ke dekat stasiun tugu. Ketebak pasti. Iya, aku mengunjungi salah satu angkringan Kopi Joss. Aku memesan kopi joss dan beberapa sate-satean seperti sate telur puyuh, sate usus, tempura, sosis dll. Kali ini zonk. Tahun lalu aku mencicipi sate-satean yang tersaji dengan hangat. Kali ini aku kurang beruntung karena pembakarnya  sedang rusak, jadi terpaksa menikmati sate-satean yang dingin dan keras. Untungnya, kopi joss membayar kekecewaanku. Rasa yang sebenarnya sama seperti kopi hitam pada umumnya, ditambahkan arang panas hingga menimbulkan bunyi "Jossss" ketika dimasukkan kedalam segelas kopi. Rasanya tidak begitu manis namun aku cukup menikmati hangatnya.
Angkringan Kopi Joss
Ini Kopi Joss dan Sate-sateannya

Hampir sama dengan kebanyakan angkringan lainnya. Tempat yang terletak dipinggir jalan stasiun Tugu Jogjakarta tersebut nggak pernah kehilangan pelanggan. Laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, semua silih berganti duduk di emperan jalan yang beralaskan terpal tersebut. Cerita nggak pernah habis untuk dibagikan kepada rekan. Begitupun mereka yang menyantap nasi kucing bersama. Keramahan pelayan yang sesekali bersenda guraupun menambah lengkapnya persaudaraan.

Entah mengapa, Jogja selalu sulit untuk dilupakan bersama dengan sejuta kenangan yang terbentang.
Selamat berkunjung ke Jogja dan menikmati setiap detiknya di daerah istimewa.

You Might Also Like

0 komentar