Best Part of My Life

00.54

Setiap ngelihat orang jual Nasi Goreng selalu baper, apalagi kalau menunya merambat ke Koloke, Fuyunghay, Capjay sampai Tamie. Inget rumah pake banget.

Dari kecil aku tinggal bareng sama kedua orangtua, Cece dan Kokoku. Mereka adalah orang-orang paling berharga dalam hidupku yang nggak asik-asik banget ini. Iya, nggak asik kalau nggak ada mereka yang coloring my life.

Dulu, Mama itu adalah perias pengantin. Mama punya salon kecil di ruang tamu rumah yang bukanya Cuma pagi sampai siang. Malam harinya salon tutup dan ganti jadi warung Mie 28. Tapi kurang lebih sejak kokoku memutuskan buat gabung bareng Mie 28 Corporation (nama adalah doa), Mama berhenti nyalon dan fokus buat bantuin warung. Tugas Mama adalah ngasih takaran yang pas buat menu yang di order sama pembeli.

Rahmania Santoso : Entah kenapa foto lama ini masih jadi foto favoritku
Papaku adalah chef terhebat yang pernah ada. Sekitar 20 tahunan, beberapa saat setelah aku lahir, Papa buka warung yang menjual Chinese food di rumah, namanya Mie 28. Pas aku tanya kenapa namanya Mie, padahal kita jual many things bukan cuma ie. Papa bilang mie itu yang melambangkan panjang umur dan  kesejahteraan. Terus kenapa angka yang dipilih 28? Itu karena 28 artinya ayam. Papa nggak menambahkan kalimat apapun setelah itu.

Emang sih buat kebanyakan orang yang lihat kalau Papa itu chinese, pasti ngira masakan kami mengandung babi. Itu kali ya salah satu alasan pemilihan nama Mie 28, buat memperjelas kalau masakan kami halal.
Karyawannya ya kami sekeluarga. Aku bertugas sebagai bartender. *Nama keren buat anak yang bikin es teh dan teh anget. Hmm*
Tapi serius deh, di rumahku nggak cuma jual es teh sama teh anget, Koko ngajarin aku buat bikin beberapa jenis minuman yang sering kami sebut mocktail (nggak mengandung alkohol) jadi kalian jangan ragu buat sebut aku mbak-mbak bartender. Haha.


Foto Cece wisuda S1 Bahasa Inggris di UMM tahun 2008

Papa dan Mama sering cerita kalau aku adalah anak yang rajin bantu-bantu di warung sejak kecil. Bhakan waktu tanganku nggak sampai ke atas meja, aku bantu lap meja dengan naik ke atasnya. Nggak jarang pembelinya gemas dan pengen adopsi aku jadi anaknya. *Yo gak ngono jugak*
Mama sering bersyukur punya ketiga anak yang baik kayak kami. Walaupun sebenernya kami juga nggak baik-baik banget.

Oh iya, warung kecil yang dulu cuma ada di depan rumah itu sekarang udah mulai berkembang. Aku merasakan beberapa kali renovasinya. Mulai dari yang awalnya cuma ada satu dua kursi duduk, pembeli harus rela himpit2an pas hujan karena rumah kami nggak ada peneduhnya (kata mama), sampai sekarang membongkar kamar tidur dan ruang tamu buat dijadikan warung. *Jangan tanya kami tidur dimana setelah kamar dibongkar. Hmm.

Sekarang, koko yang udah lulus dari sekolahnya di D1 perhotelan itu jadi pewaris usaha papa. Entah kenapa aku selalu bangga sama dia. Sejak dia turun tangan mengurus warung dan catering, menu menjadi semakin variatif, pelanggan alhamdulillah semakin banyak dan luas. Jadwal catering lebih banyak tersusun di kalender sampai aku bisa sekolah sejauh ini. Aku bangga sama Koko yang tetap mengutamakan syari'ah di warung kecil kami. Aku juga bangga sama perjuangan mama papa yang begitu besar. Itu yang buat aku dan mungkin kebanyakan anak lainnya yang nggak pengen orang tuanya kecewa karena dia gagal dalam hidupnya.

Kami sekeluarga memang bukan orang-orang kaya yang berpendidikan setinggi langit, tapi kejujuran selalu dianut, insyaallah. Kami tidak menggunakan bahan-bahan yang berlabel halal dan tidak berusaha merugikan konsumen. Bahkan hanya sekedar parafin (sejenis bahan bakar untuk pemanas buffet) yang tidak jelas kadar halal haramnya (waktu itu kami dapat harga murah tapi tidak jelas asalnya dari mana, entah barang curian atau bagaimana) koko melarang untuk menggunakannya lagi.

Dari warung papa aku belajar buat ngerti apa namanya perjuangan. Hal kecil nggak akan pernah jadi besar tanpa ada diri kita sendiri yang berusaha buat merubah.
Dari papa aku percaya, kalau nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini.

Aku ingin memberikan hadiah terindah buat keluargaku yang paling aku sayang. Buat Mama, Papa, Koko dan Cece. Aku belum tau apa yang bisa aku kasih buat kalian, tapi kalian harus percaya, kalau aku selalu berusaha buat kerahkan usaha paling maksimal buat kalian semua.

You Might Also Like

2 komentar