SI BOY ANAK JALANAN

13.31

Setiap orang berhak memilih, cerita apa yang akan ditulisnya. Namun dalam sebuah perjalanan pastilah Tuhan ikut campur tangan didalamnya.

Cerita hari ini dimulai dari sini. Iya disini. Diantara aku dan kamu. *Oposeh

Sore itu, tepat di hari Selasa 21 Februari 2017.
Aku punya teamwork bernama Sawang Sinawang Films di praktikum kedua. Ada Aku, Ravi, Kika, Arif, Kurni, Fania dan Arul sebagai anggotanya.
Next aku post foto kami bertujuh, sekarang belum ada. Hehe.
Kami ingin menunaikan tugas menjadi anggota kelompok yang baik dan budiman. Hmm.

Kami bertujuh harus membuat Iklan Layanan Masyarakat dengan menggait klien sebagai syarat pengerjaannya.


Beberapa hari kemarin kami sudah nge list kira-kira siapa yang akan kami jadikan klien. Berusaha menghubungi beberapa perusahaan yang tidak jarang mendapatkan penolakan alias dicuekin sebelum menawarkan produk. *sakit meeennn


Hari itu selasa, 21 Februari 2017. Kami memenuhi dua panggilan klien untuk berkunjung dan menjelaskan penawaran kami. Ada Kika, Arif dan Ravi yang menghadap klien di lingkungan kampus. Aku dan Arul, sebut saja dia makhluk Tuhan paling suci dan aku penuh dosa (nyanyi lagu Awkarin ft Young Lex) kami berdua pergi ke salah satu klien di luar kampus.


Yang kepo sama Arul, ini dia orangnya.
Ini Arul waktu lagi....... hngg nggak ngerti lagi ngapain. Nyapres kali.

Sepanjang jalan aku dan Arul terus memikirkan apa yang akan kita sampaikan kepada klien, mengenai konsep dan permasalahan yang dihadapi. Terus berdiskusi yang tidak pernah berujung dan tak kunjung menemukan solusi.
Sampai akhirnya kami tiba di lokasi. Aku melihat banyak mobil merah terparkir di depan kantor.


“Waduh, kita kok udah disini ya? Perasaan tempatnya jauh. Kok jadi cepet banget.”


Arul terus menambah gas berbelok ke arah kanan dan naik tanjakan sejenis roller coaster di taman safari. Parkirnya di lantai dua, dan jalannya mirip jalan hidup Arul, penuh liku dan tanda tanya. Miris, dia baru saja putus dari kekasih yang paling dia sayang. Kalo nggak percaya baca saja blognya, isinya galau dan terluka.
Kenapa jadi bahas Arul?
Kami masuk ke dalam kantor lewat pintu dekat parkiran. Dengan pedenya Arul mendahului aku berjalan ke arah meja receptionist yang dibaliknya ada satpam bersembunyi.


“Pak, mau ketemu mbak Fitri. Saya langsung masuk ya?. Ini pakai id card” Kata Arul kepedean.
“Eh id card magang ya? Udah nggak berlaku. Telepon saja mas biar mbak Fitri-nya yang keluar.” Pak satpam balas ketus ke Arul.


Arul segera telepon mbak Fitri waktu itu.
Oh iya lupa bilang, mbak Fitri adalah trainer magang Arul. Kami minta tolong disambungkan dengan atasannya untuk follow up penawaran kami.
*anggap saja begitu*
Tidak lama setelah itu, mbak Fitri datang dan mengajak kami masuk ke ruang meeting. Pak Dimas yang jabatannya kalo nggak salah Supervisor (kata Arul) sedang tidak berada di lokasi.
Akhirnya kami melakukan meeting via Hangout video call.
Saat hangout tersambung, mbak Fitri membantu memberikan prolog pada Pak Dimas tentang maksud kedatangan kami, kemudian dia melempar ke Arul untuk menjelaskan lebih rinci.
*Lah terus aku lapo ndek kono?*
Pak dimas begitu excited dengan apa yang kami tawarkan. Kami mencoba menjelaskan serinci mungkin. Beliaupun berusaha menanggapi dan bertanya sedetail apapun juga seolah memang benar-benar ingin kami menggarap project untuk perusahaan mereka.


Mbak Fitri memastikan di menit akhir meeting kami
“Mas dimas, beraarti ini di acc?”
“Oh iya dong, kalo positif ya saya dukung”
Wihhh. Kami dapat klien. Aku senang, palaagi Arul. Dia langsung jingkrak-jingkrak bahkan bilang “Aku boleh teriak nggak sih ini? Aaaaaaaaaaaaaaaa”


Maaf teman-teman, Arul memang alay.


Semua jenis tawa dan kebahagiaan Arul dipersembahkan oleh Salep 88. Hmm pasti jokes inipun garing.
Pak Dimas lalu kembali berpesan bahwa kami harus meyakinkan dengan konsep sematang mungkin. Beliau meminta time plan dan budgeting untuk project ini.


Terbesit pemikiran yang lain di benakku. Setelah kami mendapatkan klien, apa klien kami akan disetujui oleh Dosen pengampu praktikum? Karena tidak semua perusahaan butuh Iklan Layanan Masyarakat. Tapi pikiranku itu tidak bisa mengurangi senyum kebahagiaan sebab mendapat acc dari klien sore itu juga.


Jam di tanganku menunjukkan pukul 16.30. Sebagai umat beragama sih aku malu mengakui sebenarnya kalau kami belum Sholat Ashar. Kami langsung menuju mushollah. Sebenarnya mushollah ada di lantai 2 tepat di lantai kami menginjakkan kaki. Tapi karena kami menghindari seseorang, kami jadi mendaki gunung lewati lembah. Naik ke lantai 3 dari luar ruang kerja mbak Fitri, masuk ruang dance. Nunggu Arul joget-joget dulu di dalam ruangan berkaca itu. Turun lagi ke lantai 2. Masih seperti jalan hidup Arul ya, mbulet.
Kami ambil air wudhu di tempat masing-masing. Setelah itu aku masuk mushollah dan berdiri di belakang Arul untuk bergegas sholat.


Tiba-tiba Arul tanya
“Aku apain Ca? Aku imamin ta?”
Mendengar nada Arul yang khas, dengan pertanyaan itu aku jadi pengen ketawa. Padahal nggak lucu.


Aku jawab “Iyalah katanya mau jadi imam seumur hidup.”


“Eeeakkkkkk”


“Astaghfirullah age ndang sholat. Guyon ae”.


Akhirnya kami sholat. Insya Allah khusyu’ kok teman-teman.


Setelahnya, kami kembali membicarakan tentang bayangan konsep yang akan diangkat nantinya. Arul ini konseptor, indovidgrammer, otaknya fresh jadi lebih baik dia yang mikir konsep, aku yang eksekusi. Teamwork goals banget kan? Apa nggak juga ya? Hmm.


Karena sudah sore dan harus segera kembali ke kampus, kami pamit ke mbak Fitri untuk pulang.


Turunlah kami dari parkiran, sekali lagi melewati jalan bak roller coaster itu. Kami keluar dengan wajah berseri-seri penuh sukacita (seolah lupa bahwa tanggung jawab setelah mendapat klien itu lebih besar lagi). Kami rasanya ingin bercerita pada setiap mbak dan mas pengendara motor yang beriringan naik motor dengan kami bahwa kami dapat klien. Can't describe how happy we are.


Arul tiba-tiba tanya “Eh Ca tadi ATM udah lewat belum? Duitku habis soalnya”


“Nggak lihat sih. Oh bensin habis ya mas? Pake uangku aja dulu” aku bilang dengan pede tingkat dewa.


Setelah itu aku sadar, kayaknya aku juga nggak punya duit deh. Aku cek dompet dan zonk. Duitku tinggal 10 ribu. Waduh, nggak apa deh, setidaknya 10x lipat dari duit Arul lah. Hahaha.
“Mas duitku tinggal 10 ribu aja ternyata. Aku ambil juga deh”. kataku ke Arul yang lagi nyetir.
“Oh iya nanti di Pom Bensin biasanya aja, yang ada ATM nya”. jawab Arul.


Kami kembali melanjutkan rumpi-an. Eh kita ngerumpi apa diem-dieman ya di jalan?
Lupa.


Sampai akhirnya ban motor kami melintas di sekitar pertokoan sebelum Dinoyo. Aku ambil HP, buka instagram dan make a story.


“Hidup gojek. Malang macet kalian jangan kesini deh.”
Kira-kira itu contentnya. Aku teriak-teriak ditengah jalan tepatnya di tengah kemacetan. Arul jadi pendukung saja dalam video itu. Dia masih mengendarai motor dengan benar. Hingga motor kami mati dan........


“Cha, bensin habis”.


“Waduh”.
Aku nggak panik sebenarnya, tapi malu setengah mati. Berarti harus gimana? Turun dong dari motor dengan keadaan pakai helm, tersungkur dan tak berdaya. Sedih banget.
Gimana kalau fans ku lewat? Harus banget dia ketemu aku pas lagi kehabisan bensin?
*padahal rakyat jelata, nggak ada yang ngefans*
Sebenarnya sudah lama bensinku mendekati huruf E di speedometer. Dua hari yang lalu tepatnya. Tapi aku lupa mampir pom bensin setiap kali lewat. Hehe. Sebaiknya kalian jangan ikuti kecerobohan ini teman-teman.


Akhirnya Arul mendorong motor ke pinggir jalan dan bilang bilang
“kamu tunggu disini ya, aku cari bensin”
seperti pangeran yang nggak ingin sang princess ikut bercucur peluh, atau lebih tepatnya ajudan, eh apa supir ya? Yang memang harus jaga majikannya tetap utuh sampai tiba di tujuan. *Hiperbola


“Aku minta uang soalnya duitku cuma seribu. Hehe”
Kelihatan kan siapa yang bilang begitu. Aku pengen ketawa sebenarnya. Tapi kami di pinggir jalan, ditengah kemacetan yang melalang buana dan berada pas di depan toko Engko dan Tacik Tacik cina jualan oli dan jas hujan.
Nggak ngerti apa relasinya antara dua barang itu, yang penting halal ya, Ko.


“Oke” aku cuma jawab itu sambil memberikan uang dua puluh ribuan.
*Btw itu duit kas kelompok. Hehe.


Aku nunggu cukup lama. Aku ingat, Story ku yang tadi kubuat belum sempat aku post karena mendadak bensin habis dan nggak mungkin aku main hape terus.
Akhirnya aku pasang caption “setelah video ini dibuat, kami keentek an bensin. #sadstory”. Kurang lebihnya sih begitu.


Arul pergi mencari peruntungan, entah kemana. Aku mulai gelisah. Waktu yang dihabiskan Arul hampir seabad. *Yo gak lah rek.


Aku ingin menghubungi, tapi seingatku dia bilang batrainya tinggal satu persen. Jadi aku pikir sia-sia saja mengirim chat.
Tidak lama setelah itu, WhatsApp ku bunyi. Ada chat Arul masuk. Aku deg-degan mengharapkan hal baik. *Alay padahal mek keentekan bensin.


Paling kaget pas dia bilang “Cha km masih disana kan? Aku jalan tiba-tiba uda sampe kos nih”


Aku langsung kaget. Mikir kemana-mana. Masa iya Arul jalan sampai kosnya terus dia pinjam motor temannya buat kembali lagi ke tempatku sambil bawa bensin layaknya Pahlawan tanpa tanda jasa. Agak nggak mungkin sih Arul sebaik itu.



Maafin Arul typo di kalimat awal chat. Harusnya pilih salah satu aja, kan atau ta.

Ini pas dia sok tegar nggak mau dijemput.

Aku mencoba menyalakan motorku dan ternyata bisa nyala walaupun tanpa bensin. Tapi sebenarnya ini nggak baik dilakukan untuk kesehatan motor sih (kata temanku yang katanya pacarnya).
Aku menawarkan untuk menjemput dia. Tapi dia menolak.


Pikiranku teruari saat dia tiba-tiba muncul di depanku dengan membawa barang paling berharga, Pertalite di botol Aqua satu setengah liter-an.


Arullllllllll……… rasanya aku ingin memeluknya untuk menyambut kedatangan dan menebus segala kerinduanku padanya. Rasanya aku ingin mengungkapkan beribu terimakasih atas segala jerih payah yang telah ia lakukan untuk kami dapat kembali pulang. *Hiperbola lagi


“Yok cha” kata dia yang mengode untuk membuka tutup bensin.
Sempat dia melakukan atraksi bercandaan yang garing banget tapi aku nggak mau cerita daripada merusak citra Arul sebagai mantan anggota Stand Up Indo Batu yang terbuang.


Setelah isi BBM, kamipun akhirnya melanjutkan perjalanan. Mengembalikan botol dan corong bensin ke penjual yang letaknya lumayan jauh jika berjalan, apalagi sendiri. Tapi Arul cukup tegar dan terlatih. Kalian pasti paham.


Aku turun dari motor, mengembalikan botol ke mas penjual bensin. Dia memberiku kembalian 12 ribu sambil tanya “ada seribu mbak?”
Arul langsung nyaut dari atas mobil, eh motor sih “Ca, seribu kah? Ini loh ada”


Sebenarnya aku nggak cukup tega untuk mengambil uang Arul satu-satunya itu. Aku nggak ada jiwa rentenir yang tega mengambil harta seseorang sampai ke pangkalnya. Tapi nggak ada pilihan lain. Aku juga nggak punya uang lagi. Satu satunya 10 ribu utuh nggak ada lainnya lagi. Setia banget dong aku, duit aja cuma satu. Apalagi pacar. Hmm.


Akhirnya kami berikan uang seribu ke mas penjual dan melanjutkan perjalanan. Sebenarnya kami sudah ditunggu teman-teman kelompok yang lain untuk meeting hasil penawaran.

Hmm perjalanku bersama Batman berakhir di parkiran ilegal depan masjid. Aku pengen pasang wajah sok cool. Tapi gagal karena ingat kebodohan yang kami lakukan.
Next, akan lebih prepare dalam menghadapi hidup ini. Hehe.

You Might Also Like

3 komentar

  1. Anjir aku kok ngakak seh wkwk 😂 Dari dua orang yang berbeda menghasilkan tulisan yang berbeda. Mantap jiwalah. Tunggu tulisanku aja ya, tapi lebih detail punya deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. lebih detail punya siapa mas?

      Hapus
    2. Lebih detail punyamu, Rinci dan banyak...

      Hapus